• March 1, 2024

Alergi Pisang pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Belum optimalnya sistem kekebalan tubuh, membuat kekebalan tubuh bayi masih rentan. Inilah yang menyebabkannya berpotensi mengalami reaksi alergi karena hal tertentu.

Pisang yang direkomendasikan sebagai MPASI dan camilan sehat, ternyata bisa menimbulkan alergi pada bayi. Gejalanya bisa muncul segera atau sesaat setelah mengonsumsi pisang. Gejala tersebut bisa berupa gejala gastrointestinal (mual, muntah, begah, sakit perut, diare), gejala pernapasan (hidung tersumbat, terengah-engah, mengi, dada sesak, batuk), masalah kulit (ruam merah, gatal, benjolan merah, peradangan mulut). Sebenarnya, apa sih penyebab alergi pisang pada bayi?

penyebab alergi pisang pada bayi
Foto: Freepok.com

Penyebab Alergi Pisang pada Bayi

Alergi pisang pada anak tidak jarang terjadi, walaupun sebenarnya pisang merupakan makanan yang ramah anak karena lembut, manis, dan banyak mengandung zat gizi. Pada umumnya, pisang mampu ditoleransi atau dimakan anak tanpa keluhan. Akan tetapi, pada anak yang sistem kekebalannya hipersensitif terhadap protein tertentu di dalam pisang, ia bisa mengalami alergi.

Menurut penjelasan dr. Sander D, Teddy, Sp.A., Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah, pada laman Orami.co.id, tanda awal munculnya reaksi alergi tersebut adalah memuntahkan kembali pisang yang sudah ditelan. Hal ini disebabkan sistem pencernaannya tidak bisa menerima pisang. Pada suapan pertama, tubuh si kecil langsung menyerang asupan pisang tersebut guna melindungi sistem pencernaannya. Caranya dengan mengirimkan sel darah putih. Hal inilah yang memicu reaksi alergi eksternal pada anak.

Kedua, pisang yang mengandung amina vasoakif, senyawa mirip dengan histamin yang dikeluarkan oleh sistem imun, dapat memicu reaksi alergi. Senyawa ini dilepaskan ketika ada zat yang dianggap asing (alergen) masuk ke dalam tubuh.

Ketiga, alergi pisang berkaitan dengan alergi lateks. Bayi yang mengalami alergi lateks terjadi karena sistem kekebalan tubuhnya bereaksi pada protein tertentu dalam lateks. Protein tersebut sebenarnya mirip dengan struktur protein yang ditemukan dalam makanan nabati, termasuk pisang, pepaya, alpukat, kiwi, kentang, paprika, dan tomat. Hal ini disebut reaktivitas silang.

Menurut penjelasan Dr. Sharma, Kepala Divisi Alergi dan Imunologi dari Children’s Medical Center, Washington DC, sistem imun mungkin mengalami reaktivitas silang dengan makanan nabati yang secara struktural mirip dengan reaksi terhadap lateks. Berdasarkan beberapa penelitian, sekitar sepertiga hingga setengah anak dengan alergi lateks mempunyai reaksi alergi pada salah satu makanan nabati yang sudah disebutkan tadi, terutama buah-buahan segar (latex-fruit syndrome).

mengatasi alergi pisang
Foto: Freepok.com

Cara Mengatasi

Saat bayi memang mengalami reaksi alergi setelah makan pisang, maka segeralah periksakan ke dokter untuk memastikan penyebabnya. Pastikan si kecil mempunyai alergi pisang atau tidak. Sahabat Sehat juga bisa melakukan pemeriksaan alergi lain yang kemungkinan dialami bayi.

Pada reaksi alergi ringan, dokter akan memberikan obat antihistamin untuk membantu meringankan gejala yang timbul, yaitu gatal, hidung berair, atau bentol dan ruam di kulit. Dilansir dari laman HonestDoc, saat bayi menghadapi reaksi alergi terhadap pisang, dokter menyarankan untuk memberi potongan pisang kecil.

Kamu bisa memberikan pisang yang dimasak dalam porsi kecil untuk bayi karena jauh lebih aman dibandingkan pisang mentah. Kamu bisa memberikan makanan lain seperti wortel kukus karena termasuk makanan pertama yang aman untuk bayi.

Bagi si kecil yang mengalami reaksi alergi tergolong parah, seperti pembengkakan di wajah, dada sesak, atau menderita masalah kardiovaskular, maka pisang harus dihindari. Untuk gejala berat, umumnya dokter meresepkan epinephrine yang diberikan sesegera mungkin, terutama jika terjadi penyempitan saluran pernapasan dan menyebabkan sesak napas.

Oleh karena itu, segeralah memeriksakan bayi ke dokter jika muncul reaksi alergi. Mintalah saran yang lengkap terkait konsumsi pisang, apakah masih boleh mengonsumsi atau harus dihindari secara total. Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan keamanan makanan bayi dan kadar gizi yang diperlukannya.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

About the Author

Yuan Adelintang Kurniadita

Saya adalah mahasiswi Magister Sains Manajemen, UGM, dan sudah berpengalaman sebagai content writer freelance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *