• February 24, 2024

Delayed Gratification dan Manfaatnya bagi Anak

Merasa puas akan suatu pencapaian bukanlah hal yang salah. Namun, mampu menahan diri demi pencapaian yang lebih besar di kemudian hari ternyata bisa memberi dampak lebih besar, loh! Konsep ini disebut sebagai delayed gratification yang bertujuan untuk membentuk mental agar lebih bersabar ketika menginginkan sesuatu.

Delayed gratification bisa diterapkan untuk melatih anak supaya ngga terbiasa mendapat kepuasan secara instan. Berikut ini penjelasannya, Sahabat Sehat!

Konsep Delayed Gratification

Delayed gratification adalah cikal bakal regulasi diri. Konsepnya bermula dari eksperimen seorang psikolog, Walter Mischel, pada tahun 1970-an. Ia membuat eksperimen berjudul “The Marshmallow Test” yang melibatkan anak-anak sebagai peserta. Dalam tes tersebut, setiap anak diberikan dua pilihan. Pilihan pertama adalah diberikan satu marshmallow dan bisa langsung memakannya, sementara pilihan kedua adalah diberikan dua marshmallow, namun harus menunggu 15 menit untuk memakannya.

delayed gratification
Foto: Pexels.com

Berdasarkan dua pilihan tersebut, sebagian anak memilih langsung memakannya walaupun satu marshmallow. Sementara, sebagian lainnya memilih menunggu demi mendapatkan dua marshmallow.

Pilihan sejak masa kecil tersebut ternyata menentukan perkembangan mereka. Psikolog tersebut kemudian menunggu beberapa tahun hingga anak-anak tersebut dewasa dan mencari tahu bagaimana pencapaiannya di usia dewasa. Setelah ditelusuri, anak yang dahulu memilih menunggu 15 menit untuk memperoleh dua marshmallow, mempunyai karir lebih mapan dan kehidupan sosial lebih baik. Hal ini adalah bukti kesabaran, daya juang, dan pola pikir rasional yang telah terbentuk.

Manfaat Delayed Gratification

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, delayed gratification adalah kemampuan menahan diri untuk menunda mendapatkan kesenangan saat ini demi meraih sesuatu lebih berharga di masa depan. Kemampuan ini berpengaruh pada masa depan anak yang lebih baik.

Secara spesifik, anak yang dapat menunda kepuasannya dinilai mempunyai kemampuan sosial dan akademis lebih baik, lebih fasih secara verbal, berpikir lebih rasional, mempunyai perhatian yang terencana, serta mampu menghadapi stres. Anak yang terbiasa menahan diri atas kepuasaan akan berdaya juang lebih tinggi, mampu menentukan tujuan, dan lebih optimis.

Tips Menerapkan Delayed Gratification

Langsung menuruti keinginan anak atau terbiasa langsung mengapresiasinya, tidak selamanya baik. Jika terlalu sering dilakukan, anak akan bersikap manja dan memaksakan keadaan harus sesuai dengan harapannya. Semuanya dapat diatasi dengan menerapkan delayed gratification melalui cara berikut.

Melatih sikap mengendalikan diri

Mengendalikan diri erat kaitannya dengan kesabaran. Pembiasaannya adalah memintanya menunggu sebelum permintaannya dikabulkan. Sebagai contoh, berikan waktu 15 atau 20 menit untuk mewujudkan keinginannya. Hal ini mengajarkan anak mengontrol diri karena semuanya butuh proses. Dengan demikian, amarahnya terkendali dan memahami kondisi.

manfaat delayed gratification
Foto: Pexels.com

Mengalihkan perhatian dengan kegiatan positif

Saat anak menginginkan sesuatu dan harus segera dituruti, alihkan perhatiannya dengan kegiatan positif. Ajaklah melakukan aktivitas menyenangkan agar sejenak melupakan permintaannya. Latihan ini membentuk kemampuan menghibur diri sendiri agar tidak terpaku pada keinginan sesaat atau yang belum mampu diwujudkan.

Memberikan tantangan

Pemberian tantangan ini melatih anak untuk teguh mencapai tujuan. Kamu bisa melatihnya dengan memintanya membereskan mainan atau buku setelah selesai digunakan, kemudian berikan hadiah sebagai apresiasi. Hal lainnya adalah menantangnya untuk mendapat nilai 100. Ia akan melawan rasa malas untuk fokus pada tujuan, sehingga memahami bahwa hasil yang baik tercapai setelah menyelesaikan tantangan.

Mendukung anak

Orang tua harus memberikan dukungan sepenuhnya pada anak untuk merencanakan kegiatannya agar keinginannya tercapai, asalkan positif. Dukunglah setiap proses yang dilalui. Contohnya, temanilah ia saat harus belajar tekun untuk meraih prestasi atau harus menyelesaikan tugas sekolah sebelum bermain.

Menerapkan delayed gratification juga membutuhkan proses loh, Sahabat Sehat. Supaya hasilnya optimal, terapkan tips di atas dengan memperhatikan usia anak. Saat masih balita, mintalah anak menunggu dalam hitungan menit. Seiring bertambahnya usia, terapkan kesabaran dalam aspek kehidupan, misalnya dalam hal keuangan, seperti menabung untuk memenuhi kebutuhan di masa depan.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

About the Author

Yuan Adelintang Kurniadita

Saya adalah mahasiswi Magister Sains Manajemen, UGM, dan sudah berpengalaman sebagai content writer freelance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *