• February 24, 2024

Penyebab Penyakit Autoimun Serta Gejala dan Cara Mengobatinya

Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa wanita memiliki dua kromosom X, sedangkan pria memiliki kromosom X dan Y. Secara genetik, hal ini dapat memicu berkembangnya penyakit autoimun. Ada beberapa bukti bahwa kecacatan pada kromosom X mungkin membuat seorang wanita lebih rentan terhadap penyakit autoimun tertentu. Meski begitu, aspek genetika dari penyakit autoimun bisa dibilang cukup rumit. Hingga kini, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Berikut beberapa penyakit autoimun yang lebih sering ditemukan pada wanita:

1. Lupus

Lupus, atau lengkapnya lupus eritematosus sistemik, merupakan penyakit autoimun yang bersifat kronis alias menahun. Kondisi ini terjadi saat antibodi yang dihasilkan tubuh menempel pada jaringan di seluruh tubuh.

Gejala yang timbul antara lain demam, kehilangan berat badan, nyeri dan bengkak pada sendi dan otot, ruam pada wajah, dan rambut rontok.

Penyebab lupus belum diketahui. Namun, sepertinya ada keunikan pada penyakit lupus yang memicu sistem kekebalan tubuh pasien dan menyerang berbagai jaringannya.

Itu sebabnya menekan sistem kekebalan tubuh menjadi salah satu bentuk pengobatan utama lupus. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya lupus meliputi virus, polusi bahan kimia lingkungan, dan susunan genetik seseorang.

2. Tiroiditis Hashimoto

Tiroiditis Hashimoto terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid. Beberapa orang mengalami pembengkakan di depan tenggorokan yang disertai dengan kelelahan, penambahan berat badan, nyeri otot, dan depresi.

Penyakit Hashimoto biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan menyebabkan kerusakan tiroid kronis. Kondisi ini lantas dapat mengakibatkan hipotiroidisme, yakni hormon tiroid yang rendah dalam tubuh.

Penyebab penyakit Hashimoto juga belum diketahui. Namun, beberapa peneliti percaya bahwa virus, bakteri, dan kelainan genetik dapat menjadi faktor risikonya.

3. Multiple sclerosis (MS)

Multiple sclerosis atau sklerosis ganda merupakan penyakit autoimun yang menyerang lapisan pelindung di sekitar saraf. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan yang memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang.

Gejala penyakit autoimun yang satu ini bisa bervariasi karena lokasi dan tingkat serangannya berbeda-beda pada tiap wanita. Berbagai gejalanya bisa meliputi:

  • kebutaan,
  • tegang otot,
  • lemah atau mati rasa pada kaki dan tangan,
  • kesemutan,
  • kelumpuhan,
  • kesulitan dalam mempertahankan keseimbangan tubuh, serta
  • kesulitan dalam berbicara.

Pada penyakit ini, kerusakan sistem imun menghancurkan myelin, yaitu lemak yang melapisi dan melindungi serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang.

4. Rheumatoid arthritis

Arthritis terjadi ketika sistem kekebalan menyerang lapisan berbagai sendi di seluruh tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kaku, dan bengkak pada sendi serta kelemahan otot yang membuat pergerakan dan fungsi tubuh berkurang.

Kemungkinan, naik-turunnya hormon pada wanita berperan dalam timbulnya penyakit. Biasanya, hormon akan meningkat ketika memasuki periode flare-up, lalu akan berkurang saat memasuki periode remisi atau periode tanpa gejala.

Diperkirakan 75% pasien arthritis berjenis kelamin wanita. Kondisi ini muncul dan berkembang di antara usia 30–50 tahun, lebih muda daripada usia rata-rata laki-laki saat pertama kali mengetahuinya.

5. Psoriasis

Psoriasis merupakan penyakit autoimun yang membuat proses ganti kulit jadi terlalu cepat. Alhasil, sel-sel kulit ini tumbuh lebih cepat dan membentuk tumpukan kulit yang tebal. Lama-kelamaan, sel kulit yang berlebih dapat menimbulkan sisik merah keperakan yang tidak merata dan terkadang menyakitkan.

Bila kondisinya masih ringan, penumpukan kulit hanya muncul dalam bentuk mirip ketombe. Namun, bila penyakitnya sudah lebih serius, sisik dapat menyebar dan menutupi area kulit yang lebih luas. Meskipun penyakit autoimun ini lebih umum ditemukan pada wanita daripada pria, penelitian menemukan bahwa pria biasanya lebih mudah mengalami gejala yang parah.

Jika kamu mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan di atas, lebih baik segera periksakan dan konsultasikan pada dokter. Semakin cepat diperiksakan, maka akan semakin cepat pula kondisimu ditangani dan mencegah agar tidak semakin parah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *